Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

PROSES DAN TEORI DALAM INOVASI

PROSES DAN TEORI DALAM INOVASI 
1.        PENDAHULUAN
Di era sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang sangat pesat di segala bidang, termasuk di bidang pendidikan. Perkembangan dan kemajuan IPTEK di dunia pendidikan tersebut menuntut kesiapan dan kemampuan dari seluruh pelaku yang terlibat di institusi pendidikan agar pendidikan di indonesia dapat terus maju dan berkembang sehingga pendidikan kita tidak ketinggalan dengan negara-negara lain.
Pada kenyataan yang ada pada dunia pendidikan kita saat ini ternyata sering dijumpai bahwa banyak kemajuan IPTEK yang seharusnya dapat digunakan untuk menunjang kemajuan pendidikan tetapi sering tidak di implementasikan oleh para pelaku pendidikan, khususnya oleh para guru sebagai pelaku utama maju tidaknya dunia pendidikan di tanah air. Hal tersebut terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena kemajuan-kemajuan atau inovasi-inovasi yang ada tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga inovasi-inovasi yang ada tidak dapat diterima dan dikembangkan untuk kemajuan pendidikan.
Dengan melihat kenyataan-kenyataan diatas maka sangat penting diberiakan pemahaman yang utuh dan upaya-upaya penyadaran kepada seluruh guru dan pihak-pihak terkait di bidang pendidikan tentang arti pentingnya mengkomunikasikan inovasi-inovasi bidang pendidikan kepada seluruh guru dan pihak terkait dengan pendidikan sehingga seluruh inovasi-inovasi tersebut dapat cepat diterima atau di adopsi oleh seluruh pelaku yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia, sehingga pendidikan di negara kita dapat terus maju dan berkembang.
2.        TUJUAN MAKALAH
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran dan pengetahuan  tentang teori inovasi dan prosses difusi inovasi dalam dunia pendidikan dan memahami arti pentingnya komunikasi dalam menyampaikan suatu inovasi atau ide-ide baru dari seseorang atau unit tertentu yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan inovasi tersebut ( innovator) kepada seseorang atau unit-unit lain yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang inovasi tersebut (potensial adopter) sehingga suatu inovasi dapat diterima dan di implementasikan oleh seseorang atau unit-unit lain.
3.        ISI POKOK
a.    Sejarah munculnya teori Difusi Inovasi
Manusia pada umumnya adalah bersifat aktif  yang dilakukuan secara sadar untuk mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik. Segala bentuk perubahan pada diri manusia baik secara individu maupun kelompok dapat diamati dari perubahan – perubahan perilakunya. Proses perkembangan manusia sebagian di tentukan oleh kehendak sendiri dan sebagian di tentukan oleh alam atau lingkungan sekitarnya.
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Bryce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a cumulative basis over time.”
Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961); F. Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).



b.      Pengertian Proses Difusi Inovasi
Secara umum, inovasi didefinisikan sebagai suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Rogers menyatakan bahwa inovasi adalah ““an idea, practice, or object perceived as new by the individual.” (suatu gagasan, praktek, atau benda yang dianggap/dirasa baru oleh individu).
Difusi didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu selama jangka waktu tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial. Difusi dapat dikatakan juga sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana pesannya adalah ide baru. Disamping itu, difusi juga dapat dianggap sebagai suatu jenis perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Dapat dikatakan bahwa difusi inovasi merupakan satu bentuk komunikasi yang berhubungan dengan suatu pemikiran baru.
Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial.
Rogers (1961) dalam Mulyana S. (2009) mendefinisikan Inovasi sebagai, suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan yang berupa gagasan baru.Selanjutnya, definisidifusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.” 
Parker (1974), mendefinisikan difusi sebagai suatu proses yang berperan memberi nilai tambah pada fungsi produksi atau proses ekonomi. Difusi merupakan suatu tahapan dalam proses perubahan teknik (technical change). Menurutnya difusi merupakan suatu tahapan dimana keuntungan dari suatu inovasi berlaku umum. Dari inovator, inovasi diteruskan melalui pengguna lain hingga akhirnya menjadi hal yang biasa dan diterima sebagai bagian dari kegiatan produktif.

c.    Tujuan Difusi Inovasi
Tujuan utama difusi inovasi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. Anggota sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem. Selain itu tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis dalam sistim sosial.
Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.”
d.      Unsur-unsur dalam Proses Difusi Inovasi
 Proses difusi inovasi melibatkan empat unsur utama, meliputi ;
1) Inovasi;
Inovasi ini dapat berupa gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.

2) Saluran komunikasi;
Komunikasi adalah proses dimana partisipan menciptakan dan berbagi informasi satu sama lain untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa difusi dapat dipandang sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana informasi yang dipertukarkannya adalah ide baru (inovasi). Dengan demikian, esensi dari proses difusi adalah pertukaran informasi dimana seorang individu mengkomunikasikan suatu ide baru ke seseorang atau beberapa orang lain.
            

Menurut Rogers, ada empat unsur dari proses komunikasi ini, meliputi:
1)   Inovasi itu sendiri;
2)  Seorang individu atau satu unit adopsi lain yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman dalam menggunakan inovasi;
3)   Orang lain atau unit adopsi lain yang belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan inovasi; dan
4)   Saluran komunikasi yang menghubungkan dua unit tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa komunikasi dalam proses difusi adalah upaya mempertukarkan ide baru (inovasi) oleh seseorang atau unit tertentu yang telah mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan inovasi tersebut (innovator) kepada seseorang atau unit lain yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai inovasi itu (potential adopter melalui saluran komunikasi tertentu.
          Sementara itu, saluran komunikasi tersebut dapat dikategorikan menjadi dua yaitu:
1)     Saluran media massa (mass media channel).
Media massa dapat berupa radio, televisi, surat kabar, dan lain-lain. Kelebihan media massa adalah dapat menjangkau audiens yang banyak dengan cepat dari satu sumber.
2)     Saluran antar pribadi (interpersonal channel).
Saluran antar pribadi melibatkan upaya pertukaran informasi tatap muka antara dua atau lebih individu.

3) Kurun waktu tertentu;
Waktu merupakan salah satu unsur penting dalam proses difusi. Dimensi waktu, dalam proses difusi, berpengaruh dalam hal:
1)    Proses keputusan inovasi, yaitu tahapan proses sejak seseorang menerima informasi pertama sampai ia menerima atau menolak inovasi;
2)     Keinovativan individu atau unit adopsi lain, yaitu kategori relatif tipe adopter (adopter awal atau akhir); dan
3)     Rata-rata adopsi dalam suatu sistem, yaitu seberapa banyak jumlah anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi dalam periode waktu tertentu.




4) Sistem sosial.
Sangat penting untuk diingat bahwa proses difusi terjadi dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial adalah satu set unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam suatu upaya pemecahan masalah bersama untuk mencapai suatu tujuan. Anggota dari suatu sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem.
Difusi inovasi terjadi dalam suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial, individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Rogers (1983) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi. Keempat faktor tersebut adalah: 1) struktur sosial (social structure); 2) norma sistem (system norms); 3) pemimpin opini (opinion leaders); dan 4) agen perubah (change agent).
e.    Karakteristik Inovasi
Menurut Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi meliputi:
1) keunggulan relatif (relative advantage),
2) kompatibilitas (compatibility),
3) kerumitan (complexity),
4) kemampuan diuji cobakan (trialability) dan
5) kemampuan diamati (observability).
Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise social, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.
Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).
Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Kemampuan untuk diuji cobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.
Kemampuan untuk diamati adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.

f.    TAHAPAN PERISTIWA YANG MENCIPTAKAN PROSES DIFUSI
1.  Mempelajari inovasi:
Tahapan ini merupakan awal ketika masyarakat mulai melihat dan mengamati inovasi baru dari berbagai sumber, khususnya media massa. Pengadopsian awal biasanya merupakan orang-orang yang rajin membaca koran dan menonton televisi, sehingga mereka bisa menangkap inovasi baru yang ada. Jika sebuah inovasi dianggap sulit dimengerti dan sulit diaplikasikan, maka hal itu tidak akan diadopsi dengan cepat oleh mereka, lain halnya jika yang dianggapnya baru merupakan hal mudah, maka mereka akan lebih cepat mengadopsinya. Beberapa jenis inovasi bahkan harus disosialisasikan melalui komunikasi inerpersonal dan kedekatan secara fisik.
2.  Pengadopsian:
Dalam tahap ini masyarakat mulai menggunakan inovasi yang mereka pelajari. Diadopsi atau tidaknya sebuah inovasi oleh masyarakat ditentukan juga oleh beberapa faktor. Riset membuktikan bahwa semakin besar keuntungan yang didapat, semakin tinggi dorongan untuk mengadopsi perilaku tertentu. Adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan seseorang. Sebelum seseorang memutuskan untuk mencoba hal baru, orang tersebut biasanya bertanya pada diri sendiri, apakah mereka mampu melakukannya? Maka mereka akan cenderung mengadopsi inovasi tersebut. Selain itiu, dorongan status juga menjadi faktor motivasional yang kuat dalam mengadopsi inovasi.
Beberapa orang ingin selalu menjadi pusat perhatian dalam mengadopsi inovasi untuk menunjukkan status sosialnya di hadapan orang lain. Adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh nilai yang dimiliki individu tersebut serta persepri dirinya. Jika sebuah inovasi dianggapnya menyimpang atau ridak sesuai dengan nilai yang ia anut, maka ia tidak akan mengadopsinya. Semakin besar pengorbanan yang dikeluarkan  untuk mengadopsi sebuah inovasi, semakin kecil tingkat adopsinya.
3.  Pengembangan jaringan sosial:
Seseorang yang telah mengadopsi sebuah inovasi akan menyebarkan inovasi tersebut kepada jaringan sosial di sekitarnya, sehingga sebuah inovasi bisa secara luas diadopsi oleh masyarakat. Divusi sebuah inovasi tidak lepas dari proses penyampaian dari satu individu lain melalui hubungan sosial yang mereka miliki. Riset menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang solid dan dekat satu sama lain mengadopsi inovasi melalui kelompoknya. Dalam proses asopsi inovasi, komunikasi melalui saluran media massa lebih cepat menyadaran masyarakat mengenai penyebaran inovasi baru dibanding saluran komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal mempengaruhi manusia untuk mengadopsi inovasi yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh media massa.
f.        TAHAPAN ADOPTER
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi).Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujukan adalah pengelompokkan berdasarkan kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961).  
Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1.    Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi.
2.    Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi.
3.    Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4.    Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.    Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.

g.        PENERAPAN DAN KETERKAITAN TEORI
Pada awalnya, bahkan dalam beberapa perkembangan berikutnya,  teori Difusi Inovasi senantiasa dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat. Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat.
Rogers dan Shoemaker (1971) dalam Mulyana S (2009) menjelaskan bahwa proses difusi merupakan bagian dari proses perubahan sosial. Perubahan sosial adalah proses dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial.
Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:
1.    Penemuan (invention),
Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan.
2.    Difusi (diffusion),
Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru  dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial,
3.    Konsekuensi (consequences),
Konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.
ROGER  menawarkan alternative mekanisme Disfusi Inovasi dalam Lembaga Pemerintahan, yaitu ;
1.      Agenda Setting
Pada tahap ini dilakukan identifikasi kebutuhan lembaga. dengan Identifikasi dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan “ Apakah Inovasi yang bersangkutan dibutuhkan lembaga.
2.      Maching
Pada tahap ini terjadi proses mencocokkan, melakukan redesign organisasi untuk menyesuaikan dengan inovasi. Organisasi dapat memutuskan bahwa inovasi yang akan di difusi mach atau mismatch. Apabila menurut penilaian terjadi mismatch maka inovasi dapat ditolak. Keputusan ini penting karena akan menentukan langkah selanjutnya.
3.      Restrukturing / Redefining
Ketika tahap 2 di putuskan bahwa inovaso mach dengan organisasi maka harus mulai melakukan modifikasi terhadap inovasi tersebut sehingga inovasi mulai mengurangi karakter bawaannya dan mulai menyatu dengan karakter organisasi. Dalam tahap ini inovasi di reinvented  sehingga menjadi inovasi yang memiliki karakter organisasi.Dengan demikian juga secara otomatis terjadi stukturisasi lembaga sebagai dampak dari implementasi inovasi.
4.      Clarifying
Pada tahap ini inovasi diimplementasikan secara luas sehingga ide-ide yang di bawa oleh innovator lambat laun menjadi kebiasaan bagi setiap anggota organisasi.
5.      Routinizing
Pada tahap ini inovasi telah menjadi ide-ide dan telah menjadi kegiatan rutinitas yang menyatu dengan kegiatan organisasi. Ide-ide inovasi telah melebur dengan organisasi menjadi pengetahuan, cara berfikir dan cara bertindak.

4.        KESIMPULAN
Secara ringkas proses adopsi inovasi dapat digambarkan sebagai berikut ;

   Tahap 1             Tahap 2          Tahap 3            Tahap 4            Tahap 5
   Kesadaran -----> Minat ------> Evaluasi -------> Mencoba ------->Adopsi

Dengan memperhatikan pembahasan di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa proses inovasi yaitu proses seseorang mulai dari tahu tentang inovasi sampai dengan mengambil keputusan apakah menerima atau menolak inovasi tersebut.
Proses difusi suatu inovasi memerlukan waktu, cepat atau lambatnya proses difusi inovasi sangat dipengaruhi oleh antara lain; tipe-tipe hubungan antara inovator dengan potensial adopternya, karakter atau sifat-sifat inovasi itu sendiri dan lain lain.
Di dalam dunia pendidikan, guru memiliki peranan yang sangat besar dalam proses difusi inovasi, berhasil atau tidak suatu inovasi diterapkan di lembaga pendidikan sangat tergantung dari kemampuan dan kemauan guru dalam menerima dan mendifusikan inovasi kepada klien atau peserta didik atau siswanya.


























Daftar Pustaka

Roger, Evertt M, (1961) Diffusion of innovations.Glenceo : Free Press Available on  : http://books.google.com/books?id=ZW0-AAAAIAAJ
Roger, Evertt M, (2003) Diffusion  innovations( 5 th ed ).New York : Free Press Available on  : http://wsmulyana.wordpress.com/2009/010250 teori difusi inovasi
http://achmad 42.wordpress.com/2008/06/17 teori disfusi inovasi

http://www.scipd.com/doc/56138197/teori-disfusi-inovasi

Jumat, 19 Juli 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU ADPOSI INOVASI PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES DALAM PEMECAHAN MASALAH FISIKA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU ADPOSI INOVASI PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES
DALAM PEMECAHAN MASALAH FISIKA

1.      PENDAHULUAN
Unsur yang terpenting dalam pembelajaran yang baik adalah siswa yang belajar, guru yang mengajar, bahan pelajaran, hubungan antara guru dan siswa. Maka semua usaha guru harus diarahkan untuk membantu dan mendorong agar siswa mempunyai kemauan mempelajarinya secara sendiri.Guru diharapkan menguasai bahan yang diajarkan, mengerti keadaan siswa, sehingga dapat mengajar sesuai dengan keadaan dan perkembangan siswa, dapat menyusun bahan sehingga mudah ditangkap siswa.
Menurut Piaget, fisika dikelompokkan sebagai pengetahuan fisis, pengetahuan fisis terjadi karena abstraksi alam. Oleh karena fisika pengetahuan fisis maka untuk memahami fisika dan mempelajari fisika, diperlukan kontak langsung dengan hal yang ingin diketahui.
Kurikulum yang saat ini berlangsung nampaknya sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman, perlu ada pemikiran baru yakni mengajak siswa untuk langsung ikut serta dalam menemukan sesuatu yang baru dan belum dipahami dengan menekankan pada pendekatan ketrampilan proses. Pendekatan ketrampilan proses merupakan bentuk pengajaran IPA secara umum dan fisika pada khususnya yang melibatkan siswa secara aktif. Adapun pendekatan yang digunakan, perlu kesiapan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kesiapan belajar meliputi kesiapan mental dan kesiapan pengalaman belajar sissswa. Sebelum dimulai proses belajar mengajar, sebaiknya guru mengetahui seberapa jauh kesiapan siswa. Bila kesiapan siswa kurang dikhawatirkan masalah pada materi baru kurang berkembang, akibatnya siswa hanya mampu memecahkan persoalan fisika yang sederhanasedangkan untuk perosoalan yang lebih kompleks kurang mampu dan bahkan tidak bisa.
Oleh karena itu penggunaan metode penemuan (discovery) dimana siswa dapat mengamati, mengukur, mengumpulkan data dan menyimpulkan. Apabila siswa belum pernah mempunyai pengalaman belajar dengan kegiatan penemuan (discovery).
Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses yang tidak mudah karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik. Oleh sebab itu maka penulis mengadakan penelitian dengan menerapkan pendekatan ketrampilan proses dengan metode Discovery untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah fisika siswa.

2.      PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah. Apakah penerapan pendekatan ketrampilan proses dapat berpengaruh terhadap pemecahan masalah fisika?
3.      METODOLOGI
Metodologi yang digunakan untuk menjwab masalah yang telah dirumuskan diatas adalah menggunakan studi literature. Studi literature dimaksudkan untuk mengumpulkan teori dan penemuan hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah ini.

4.      TINJAUAN TEORI
a.  Hakekat Sains
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia. Ilmu adalah alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Ditinjau dari fisiknya. IPA adalah ilmu pengetahuan yang objek telaahnya adalah alam beserta isinya. Jika ditinjau dari namanya IPA adalah ilmu yang mempelajari tentang sebab akibat dari kejadian-kejadian yang terjadi dialam ini.IPA juga diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang sistematik dari gejala-gejala alam, dari definisi diatas ada 3 aspek yang mencakup sains, yakni:
1)      Aspek Produk
Istilah produk  yang diterapkan pada prinsip, hukum atau teori didalam sains menyatakan bahwa hal tersebut adalah hasil rekaan manusia dalam rangka memahami dan menjelaskan alam bersama dengan fenomena yang terjadi didalamnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sains adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaan diri dan lingkungannya
2)      Aspek Proses
Aspek proses yaitu metode memperoleh pengetahuan, metode itu dikenal dengan nama metode keilmuan, metode keilmuan yang baku merupakan hasil perkembangan yang sebelumnya, metode keilmuan ada kerangka dasar prosedur yang dapat dijabarkan menjadi enam : sadar akan adanya masalah dan penemuan masalah, pengamatan dan pengumupulan data yang relevan, penyusunan atau klasifikasi data, perumusan hipotesis, deduksi dan hipotesis, pengujian hipotesis.
3)      Aspek Sikap
Aspek sikap adalahberbagai keyakinan dan opinidan nilai-nilai yang harus dipertahankanoleh seorang ilmuwan khususnya ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan yang baru.menurut dawson, sikap dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok yang besar yakni seperangkat sikap bila diikuti membantu proses pemecahanmasalah dan seperangkat sikap yang menekankan terhadap sains sebagai suatu cara memandang dunia serta dapat berguna bagi pengembangan karir masa depan.
b.  Pendekatan Ketrampilan Proses
Pendekatan diartikan sebagai suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh guru juga siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Tinggi rendahnya kegiatan mengajar sangat dipengaruhi oleh cara guru dalam menyampaikan materi pelajarannya. Pendekatan menekankan pada strategi dalam perencanaan. Untuk dapat menunjukkan proses pembelajaran dapat dimulai dari pendekatan, kemudian dari pendekatan ini dijabarkan pada model pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik dan taktik. Dengan demikian suatu pendekatan pembelajaran dapat saja menggunakan lebih dari satu macam metode pembelajaran.
Pendekatan ketrampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik dan Sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu manusia.
c.  Hakikat Pemecahan Masalah.
Dalam pembelajaran fisika pemecahan msalah merupakan bagian tak terpisah dari proses pemeroleh pengetahuan lewat latihan berulang pemecahan masalah secara sederhana dapat diartikan sebagai penyelesaian soalyang dapat dilakukan lewat pengamatan maupun tanpa pengamatan. Soal dalam pembelajaran fisika dapat dipandang sebagaisarana dalam upaya rekonstruksi pembelajaran fisika di kelas, menetapkan tercapainya tujuan pembelajaran terkait dengan penerapan kemampuan berpikir siswa, membangkitkan motivasi dan minat belajar fisika siswa dan membangun interaksi Sosial budaya. Menurut John Dewey langkah-langkah yang diikuti dala pemecahan masalah pada umumnya: siswa dihadapkan dengan masalah, siswa merumuskan masalah, siswa merumuskan hipotesis, siswa menguji hipotesis itu.
5.      PEMBAHASAN
Pendekatan ketrampilan proses dalam pemecahan masalah fisika, jika ditinjau dari factor-faktor yang mempengaruhi laju adopsi inovasi pembelajaran fisika dapat dijelaskan dibawah ini:

a.  Jenis Keputusan yang diambil
Dalam Inovasi pembelajaran menggunakan pendekatan ketrampilan proses dalam pemecahan masalah fisika jenis keputusan yang diambil sangat tergantung guru, kepala sekolah. Menurut Roger (1995) semakin banyak orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan  suatu inovasi maka  laju adopsinya semakin rendah dengan demikian pada saat kurikulum saat ini guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan sendiri model pembelajarannya, dapat dipastikan bahwa lju adopsinya model pembelajaran ini tinggi
b.  Saluran Komunikasi
Saluran komunikasi yang digunakan dalam difusi pembelajaran ketrampilan proses juga berpengaruh terhadap laju inovasi ini, Beberapa saluran komunikasi yang digunakan dalam difusi inovasi pembelajaran fisika melalui pendekatan ketrampilan pross adalah dokumen  matrei ajar dan komunikasi verbal dalam pembelajarannya, dua saluran ini tampaknya tidak berperan banyak
c.  Karakter sistem sosial
Menurut roger (1995) karakteristik sistem sosial seperti norma dan struktur dalam masyarakat juga mempengaruhi laju adopsi inovasi. Dalam kasus ini karakteristik sistem sosial yang dibawa oleh peserta didik dai lingkungan yang bervariasi mempengaruhi laju adopsi inovasi yang diterima peserta didik dari guru melelaui media ketrampilan proses, maka dengan demikian guru juga harus mengetahu terlebih dahulu karakter dai siswa, sehingga dalam pelaksanaannya perlu ada perencanaan setting tempat dan pembagian kelompok
d.   Usaha Promosi yang dilakukan oleh change agent
Siapakah sebenarnya change agent dalam pendekatan ketrampilan proses dalam pemecahan masalah fisika, dalam hal ini siswa dan kepala sekolah, sayangnya ruang gerak mereka terbatas, sehingga kegiatan promosi inovasi tidak maksimal mengakibatkan laju adopsi yang terjadi pun juga terhambat.
6.      KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan, dapat disampaikan factor factor penghambat dan pendorong laju adopsi inovasi pembelajaran Pendekatan ketrampilan proses dalam pemecahan masalah fisika:
Faktor Pendorong
a.  Karakteristik system social
Faktor Penghambat
a.  Jenis keputusan yang diambil
b.  Saluran Komunikasi
c.  Usaha Promosi yang dilakukan oleh change agent

REFERENSI
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang mempengaruhi, Jakarta Rineka Cipta 1991

Sumaji, Pendidikan Sains yang Humanis, Yogyakarta, Kanisius 1998


Wijaya, cece dkk, Upaya Pembaharuan dan Pendidikan Pengajaran, Bandung, PT Remaja Rosda Karya  1992

Inovasi Pembelajaran Fisika Dengan Menggunakan Pendekatan CTL


Inovasi Pembelajaran Fisika
Dengan Menggunakan Pendekatan Contekstual Teaching Learning

A.    PENDAHULUAN
       Pada era sekarang ini peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan komponen yang terdepan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat, kualitas sumber daya manusia sangat terkait dengan kualitas pendidikan yang merupakan produk dari lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Namun pada hakekatnya produk dari pendidikan tidak di sertai dengan prosesnya yang terstruktur.
       Maka dari itu pembelajaran Konstruktivisme yang terkandung dalam pendekatan Contekstual Teaching Learning perlu di gunakan untuk Inovasi pembelajaran Fisika yang perlu memperhatikan prosesnya, tanpa mengenyampingkan hasilnya
      
B.    TUJUAN MAKALAH
          Tujuan Penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran dan pengetahuan tentang pentingnya peranan inovasi pembelajaran fisika dengan menggunakan pendekatan Contekstual Teaching Learning. Memberikan makna yang mendalam apa arti dan fungsinya belajar fisika serta kaitanya dalam kehidupan sehari-hari, serta mempertegas Fisika termasuk dalam ilmu kauniyah, ilmu tentang regularity of the universe, ilmu tentang keteraturan alam semesta dengan demikian dapat menunjukkan Ketakwaan dan keimanan kita terhadap ALLAH SWT
      
C.       ISI POKOK
1)       Fisika
         Fisika  merupakan  salah  satu  cabang IPA,            pada      dasarnya bertujuan untuk mempelajari dan menganalisis gejala atau proses            alam dan sifazat serta penerapannya  (Wospakrik,           1994). Pendapat tersebut diperkuat  oleh pernyataan  Surya  (1977) bahwa  Fisika merupakan  suatu  ilmu  pengetahuan  yang mempelajari bagian-bagian dari alam dan interaksi   yan ada   di   dalamnya Ilmu Fisika membantu kita untuk menguak dan memahami tabir misteri alam semesta ini.Tujuan yang         ingin           dicapai dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Fisika di SMP (Depdiknas,2006),  diantaranya  (1)  Mengembangkan  kemampuan berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip Fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah baik  secara kualitatif  maupun kuantitatif, (2) Menguasapengetahuan,  konsep,  dan prinsip Fisika sertamempunyai keterampilan     mengembangkan pengetahuan,keterampilan dan sikap percaya  diri  sehingga  dapat  diterapkan dalam  kehidupan  sehari-hari  dan  sebagai bekal  untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.Untuk  mencapai  tujuan  kurikulum  di atas,  pemerintah berusaha       meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengadopsi berbagai  pendekatan dalam pembelajaran.
2)       Inovasi Pembelajaran
         Inovasi Pembelajaran adalah suatu ide barang atau metode yang dirasakan atau di amati sebagai hal baru bagi seseorang atau sekelompok masyarakat baik berupa hasil invensi mauppun diskoveri baik untuk mencapai tujuan pembelajaran atau untuk memecahkan masalah- masalah dalam pembelajaran
3)       Pendekatan CTL
What is context? Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apakah arti kata konteks? Dari segi bahasa, menggunakan kata konteks konteks berarti memahami makna dari sebuah kata dengan memperhatikan makna dari kata-kata yang terkandung di dalam sebuah kalimat, atau  memahami sebuah kalimat dengan memperhatikan makna dari kalimat-kalimat yang terkandung di dalam sebuah paragraf. Dalam sebuah kalimat, semua kata yang terkandung membangun sebuah konteks. Demikian juga dalam sebuah paragraf, semua kalimat yang terkandung membangun sebuah konteks. Jadi, konteks berarti semua kata di dalam sebuah kalimat atau semua kalimat di dalam sebuah paragraf.
Pikiran seseorang akan dipengaruhi oleh konteks di mana dia hidup dan berada. Misalnya seorang anak yang sehari-harinya hidup di kota ketika diminta untuk mengambilkan telur akan menuju ke lemari es (kulkas). Lain halnya dengan seorang anak yang sehari-harinya hidup di desa pertanian akan menuju ke kandang ayam. Respon kedua anak tersebut berbeda sebab mereka memiliki konteks yang berbeda. Dalam konteks kota, pikiran anak akan tertuju pada lemari es (kulkas) ketika berpikir tentang telur sedangkan dalam konteks desa pertanian pikiran anak tertuju  pada  kandang  ayam  ketika  berpikir  tentang  telur.  Berdasarkan  uraian tersebut di datas, konteks berarti hal-hal yang berkaitan dengan ide-ide atau pengetahuan awal seseorang yang diperoleh dari berbagai pengalamannya sehari-hari. Oleh karena itu, kontekstual berarti berkaitan dengan atau bersifat konteks.Dengan mengaitkan materi pelajaran (instructional content) dengan konteks kehidupan dan kebutuhan siswa akan meningkatkan motivasi belajarnya serta akan menjadikan proses belajar mengajar lebih efisien dan efektif. Pendekatan belajar ini disebut pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning). Proses belajar kontekstual terjadi dalam situasi kompleks dan hal ini berbeda dengan pendekatan behaviorist yang lebih menekankan pada latihan. Menurut Nurhadi dalam Mundilarto (2004: 70) contextual teaching and learning merupakan konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan di kelas dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupannya sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat.
Pendekatan kontekstual sebenarnya berakar dari pendekatan konstruktivistik yang menyatakan bahwa seseorang atau siswa melakukan kegiatan belajar tidak lain adalah membangun     pengetahuan    melalui         interaksi dan interpretasi di lingkungannya. Pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan konteks dibangun oleh siswa sendiri bukan oleh guru.
Menurut Priyatni dalam Krisnawati dan Madya (2004: 56) pembelajaran yang
dilaksanakan  dengan  menggunakan  metode  kontekstual  memiki  karakteristik sebagai berikut:
a)    Pembelajaran yang dilaksanakan         dalam konteks   yang otentik,           artinya
pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah nyata yang dihadapi.
b) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas- tugas yang bermakna.
c)  Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada
siswa.
d) Pembelajaran  dilaksanakan  melalui  kerja  kelompok  ,  berdiskusi,  dan  saling mengoreksi
e)  Kebersamaan, kerjasama, dan saling memahami satu dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek pembelajaran yang menyenangkan.
f)   Pembelajaran  dilaksanakan  secara  aktif,  kreatif,  produktif  dan  memetingkan kerjasama.
g)  Pembelajaran dilaksanakan dengan cara menyenangkan
          Salah  satu   pendekatan  yang  dianjurkan adalah pendekatan kontekstual (ContextualTeaching and Learning). Pendekatan CTL adalah Pendekatan pembelajaran yang mengaitkan isi  pelajaran dengan lingkungan sekitar siswa atau dunia nyata siswa, sehingga akan  membuat pembelajaran lebih bermakna (meaningfulearning),karena siswa mengetahui pelajaran yang diperoleh di kelas  akan bermanfaat dalam kehidupannya sehari-hari. Pendekatan CTL dengan berbagakegiatannya menyebabkapembelajaran lebih menarik dan  menyenangkan bagi siswa, juga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar ( M. Nur, 2003 ).
Pendekatan kontekstual (CTL) merupakasalasatu pendekatan pembelajaran yang dianjurkan  dalam penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Oleh sebab itu pendekatan pembelajaran kontekstual ini perlu dikembangkan.Namun kenyataannya selama  ini  pendekatan CTL tersebut pada umumnya belum dilaksanakan sebagaimana mestinya.
D.                                           KESIMPULAN
                   Inovasi pembelajaran fisika perlu diterapkan dalam suatu kegiatan pelajaran, supaya peserta didik belajar dengan menyenangkan, selain itu untuk mempertegas aplikasi pelajaran fisika dalam kehidupan sehari-hari metode pendekatan contekstual teaching learning merupakan pendekatan yang sesuai untuk pelajaran fisika

E.     DAFTAR PUSTAKA
Enoh, Muhammad (2004) Jurnal Ilmu Pendidikan : Implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam pelajaran Geografi SMU. Surabaya: LPTK & ISPI